27 July 2015

Al-khilafah Al-siyasiyyah

Oleh: Ki Waras Jagat Pakuan

Dialogh Semi Imaginer I



Santri : Pak Kiai, akhir-akhir ini saya sering melihat di media elektronik, media cetak bahkan di pinggir-pinggir jalan raya ajakan-ajakan kepada umat Islam untuk mendirikan Khilafah Islamiyah, diantara kata-kata ajakan itu misalnya berbunyi "Saatnya Khilafah memimpin dunia", "Tegakkan khilafah" dll. Pak Kiai, bagaimana caranya mendidrikan khilafah itu?

Kiai : Wah pertanyaannya berat juga nih, mestinya pertanyyan ini diajukan kepada teman-teman kita dari Hijbut Tahrir Indonesia (HTI), Majlis Mujahidin Indonesia (MMI), Fron Pembela Islam (FPI) atau setidak-tidaknya kepada orang-orang PKS. Tetapi, karena pertanyaan ini diajukan kepada saya ya saya harus jawab jua. Begini, Umat Islam harus paham betul akan isi dan petunjuk Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah Saw. Menurut Al-Qur'an yang mempunyai hak untuk mendirikan Khilafah adalah Allah SWT sendiri, dengan syarat orang-orang mukmin beriman dan beramal saleh Allah berfirman: "Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka khalifah (yang berkuasa) dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka menjadi khalifah, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.."[1]

Santri : Kalau menurut Sunnah bagaimana?

Kiai : Sunnah Rasulullah Saw. dan bahkan Sunnah para nabi sebelumnya memberikan gambaran dengan sangat jelas, bahwa adanya Khilafah itu didahului oleh Nubuwwah (Kenabian) selain dari ini belum ada contohnya. Memang dalam Hadits Rasulullah Saw. dinubuwatkan (diramalkan secara pasti) bahwa pada akhirnya Umat Islam akan memperoleh khilafah 'ala Minhaj al-nubuwwah (Khilafah yang berdasarkan system kenabian). Dan ini tidak dapat diusahakan atau dikampanyekan sesuai keinginan sekelompok atau beberapa kelompok Umat Islam. Sepanjang sejarah agama Tauhid, tidak ada kepemimpinan atau khilafah yang berdiri hasil dari musyawarah atau konperensi. Silahkan kaji Al-Qur'an dari Surah Al-Fatihah hingga Surah An-Nas.

Santri : Jadi kapan persisnya Khilafah itu akan diturunkan Allah SWT?

Kiai : Sesuai dengan hadits mutawatir, bahwa Khilafah di akhir zaman ini dipercayakan kepada Isa Ibnu Maryam as atau dikenal dengan Al-Masih Al-Mau'ud (Al-Masih yang dijanjikan) yang secara otomatis dia juga bergelar Al-Mahdi (Imam Mahdi). Hadits menyatakan : La mahdiyya illa isa (Tidak ada Imam Mahdi melainkan Isa itu sendiri) dan Kaifa antum idza nazala ibnu maryama fiikum wa imamukum minkum (Bagaimana sikap kalian jika turun Isa Ibnu Maryam pada lingkungan kamu sekalian sedang ia bertindak sebagai pemimpin dari kalian juga).

Dengan menggunakan harfu al-takyif (kaifa antum=bagaimana sikap kalian), Rasulullah Saw. nampaknya sudah diberi tahu akan masa mendatang, yakni ketika Al-Masih yang dijanjikan datang di dunia ini banyak dari umat beliau akan yang menentang atau tidak mengakuinya sebagai Al-Masih Al-Mau'ud.

Santri : Menurut pengkajian saya hadits-hadits tentang Al-Mahdi dan Al-Masih Al-Mau'ud itu sangat banyak dan beragam, sehingga sangat sulit untuk diambil natizah (kesimpul)nya. Jadi bagamana metode (cara) untuk memahaminya?

Kiai : Sesuai dengan gaya bahasa dan sifat-sifat hadits nubuwatan (ramalan pasti) dari Rasulullah Saw. Hadits-hadits tersebut harus difahami dengan menggunakan pendekatan balaghiyyah (gaya bahasa baik secara hakiki maupun majazinya) dan manthiqiyyah (secara logika masuk akal atau tidaknya) dengan senantiasa berorientasi kepada Al-Qur'an disamping dengan menggunakan ulumu al-hadiits (dirayah atau riwayah) .Jika tidak demikian saya yakin sepandai apapun orang tidak akan berhasil mengkompromikan hadits-hadits itu hingga mencapai kesimpulan yang jelas. Dalam kondisi seperti ini, fungsi Malaikat Jibril akan sangat diperlukan, anda boleh setuju ataupun tidak dengan pendapat saya ini.

Santri : Mohon diberi contoh memahami hadits nubuwatan dengan pendekatan-pendekatan tadi?

Kiai : Seperti hadits yang mengatakan bahwa; Nabi Isa ketika datang akan memecahkan salib dan membunuh babi. Secara ilmu hadits, hadits ini sangat sahih karena diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim serta tidak bertentangan dengan Al-Qur'an. Akan tetapi untuk memahaminya tidak bisa secara hakiki (apa adanya) karena tidak mungkin Al-Masih yang dijanjikan pergi ke sana ke mari mengelilingi dunia untuk merusak salib baik yang berada di gereja, rumah atau yang dipakai kalung oleh orang-orang Kristen di samping harus pergi ke hutan belantara dan peternakan untuk membunuh babi-babi. Dari semenjak Nabi Adam sampai Nabi Muhammad tidak ada yang diberi tugas seperti ini. Hadits seperti ini harus dipahami secara majazi (majaz mursal) sehingga umat Islam bisa memahami bahwa tugas Masih Mau'ud itu adalah untuk merontokan aqidah Ketuhanan Yesus dan Penebusan Dosa yang sangat erat sekali dengan symbol salib melalui barahin (argumentasi-argumentasi) yang sangat jitu yang membuktikan bahwa Nabi Isa yang dianggap Tuhan, sebenarnya telah wafat serta dan dikubur di Srinagar Kasmir). Membunuh babi diartikan bahwa Masih Mau'ud atau Imam Mahdi yang digelari Tuhan dengan Khalifatullah Al-Mahdi akan mengajarkan dan menyegarkan kembali semangat untuk mengikuti akhlak Rasulullah Saw. sehingga sifat-sifat babi/hewani manusia bisa diminimalisir atau bahkan bagi orang-orang tertentu dihilangkan.

Santri : Kembali kepada Khilafah dan mengangkat Khalifah, apa mungkin bisa dilakukan di Indonesia ini?

Kiai : Sejak Saya duduk di SMP Tjokroaminoto Maja sekitar tahun 1980 sampai mengajar di pesantren Assalam Maja dari 1984 - 1989 saya sudah gandrung dengan masalah Khilafah atau Imamah ini karena memang saya berasal dari Islam Garis Keras dan Islam Politik[2]. Setelah saya pelajari Islam lebih luas dan dalam lagi dengan ajaran-ajaran tasawuf sambil mengesampingkan hayalan mendapatkan kekuasaan dengan "menjual" Islam sebagai komoditasnya. Saya berkesimpulan, bahwa untuk memperoleh kemenangan Islam II di akhir zaman ini segenap umat manusia harus diseru untuk bergabung di dalam Khilafah yang telah didirikan Tuhan melalui Imam Mahdi as. dibawah Panji Laiaha illallah muhammadurrasulullah. Hanya Imam Mahdi dan para Khalifahnyalah yang berhak menerima ba'at dari umat Islam. Nabi Saw. dalam hadits At-Thabrani bersabda: "Apabila kalian melihat Al-Mahdi (baik langsung atau tidak) telah muncul maka hendaklah kalian berbai'at kepadanya, karena sesungguhnya ia adalah Khalifatullah Al-Mahdi". Jadi untuk mengangkat seorang Khalifah terlebih-lebih Khalifah yang memegang kekuasaan politik dan teritorial adalah tidak mungkin, apalagi di Indonesia yang segenap warganya telah terikat dengan Pancasila dan UUD 45 sebagai Perjanjian Luhur Bangsa Indonesia. Alangkah malunya umat Islam kalau harus paling duluan mengkhianati Perjanjian Luhur ini.

Santri : Jadi kalau begitu buat apa teriak-sana sini mengusung-usung isu Khilafah dan Penegakkan Syari'at Islam?

Kiai : Ya mungkin mereka punya tujuan-tujuan tertentu, yang sudah jelas adalah kekuasaan, kursi atau jabatan. Walaupun keinginan dan hayalan untuk mendirikan Khilafah itu tidak mungkin hilang. Kita berharap semoga mereka tidak memaksakan kehendak, lebih arif dan santun dalam menyuarakannya. Kalau mereka berbuat sebaliknya, maka mereka dapat dianggap sebagai para Perusak Citra Islam terlebih-lebih jika harus dengan ngebom sana ngebom sini menjadi para teroris dan berbuat makar terhadap NKRI. Lebih konyol lagi jika yang dibom itu adalah saudara seagama dan bangsanya sendiri.

Santri : Mengenai Khilafah yang dibawa Imam Mahdi as. seperti apa?

Kiai : Sifat-sifat Khilafah Imam Mahdi as. adalah penjelmaan sifat jamali (indah dan lemah lembut)nya Rasulullah Saw. Khilafah ini murni Khilafah Keagamaan, sama sekali bukan dan tidak bertujuan politik, hal ini diisyaratkan dengan jelas dengan janji Nabi Muhammad Saw. bahwa yang akan datang di akhir zaman adalah Isa Ibnu Maryam, artinya bahwa Khilafah Imam Mahdi atau Al-Masih yang dijanjikan non politik seperti halnya Nabi Isa as dahulu. Nabi Isa as menjadi pemimpin umat Bani Israil tanpa kekuasaan politik di masa penjajahan Romawi, demikian juga halnya Al-Masih akhir zaman akan seperti itu. Kenapa yang dijanjikan itu Isa Ibnu Maryam, bukan Nabi Dawud as, Sulaiman as, atau Musa as. inilah rahasiahnya.

Santri : Bagaimana halnya jika para pemimpin Islam seluruh dunia berkumpul untuk memilih Khalifah mereka?

Kiai : Syawa'un kana, dan itu sudah dicoba dari semejak zaman Raja Faisal dari Saudi Arabia atau jaman HOS Tjokroaminoto akan tetapi gagal total. Realistis saja, jika yang muncul dan ingin menjadi Khalifah itu dari Wahabi apa Ahlus-Sunah dan Syi'ah mau menerimanya? Begitu juga sebaliknya. Sekarang HTI yang paling getol mendemontasikan hal itu walaupun dari kalangan mereka belum ada yang berani mencalonkan diri sebagai khalifah kalau pun ada apakah orang-orang NU dan Muhamadiyah akan begitu saja meng-amin-kan? Persoalan teritorial juga merupakan hal yang tidak mungkin dapat dikompromikan, pemerintahan mana yang sudi kekuasaanya dirampas atau paling tidak dibagi dua?

Santri : Sepengetahuan saya, Khilafah yang sudah ada dan eksis adalah Khilafah Ahmadiyah dengan jamaahnya yang disebut Jemaat Ahmadiyah. Bagaimana pendapat Kiai?

Kiai : Ya, realitasnya memang demikian. Ahmadiyah sudah menetapi Sistem Khilafah seratus tahun (seabad) yang lalu dengan perkembangan yang sangat pesat baik di benuia Asia, Eropa, Aprika, Amerika dan Australia. Dalam tempo satu abad saja pengikut Ahmadiyah sudah berjumlah puluhan juta pengikut yang tersebar di ratusan Negara. Ahmadiyah tidak bisa dibendung oleh musuh-musuh mereka walaupun harus dikeroyok dari semenjak kelahirannya tahun 1889. Kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa Khilafah Ahmadiyah berkembang terus dan tidak bisa dihancurkan. Kalau Khilafah ini tidak dikehendaki Allah, mungkin sudah hancur semenjak zaman Mirza Ghulam Ahmad sendiri. Semoga orang-orang yang memusuhi dan berusaha dengan tidak henti-hentinya untuk membubarkan dan menghancurkan Ahmadiyah tersadar akan kenyataan ini dan berfikir; jangan-jangan Ahmadiyah ini memang ditanam dan dipelihara oleh Allah Yang Maha Gagah, setiap orang yang memusuhinya sama artinya dengan menyatakan Perang Terhadap Allah. Lihatlah negeri pilu Afganistan yang secara langsung dapat kutukan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. dengan sebab mereka telah merajam dua orang suci yang telah menjadi pengikut setianya. Lihat pula kondisi Pakistan, negeri pertama yang menyatakan bahwa Ahmadiyah adalah aliran minoritas non Muslim dengan segala penganiayaan yang tidak terhitung. Di Negara kita tercinta, Indonesia; apa yang telah menimpa bangsa Indonesia pasca penyerangan Pusat Jemaat Ahmadiyah di Bogor tahun 2005 lalu? Kalau saja Ahmadiyah tidak diridhai Allah, kenapa bangsa ini tambah menderita dan sengsara dengan berbagai bala bencana yang silih berganti setelah Pusat Ahmadiyah serbu? SAYA SANGAT KHAWATIR, JIKA PENGANIAYAAN DAN ANARKISME TERHADAP AHMADIYAH TIDAK SEGERA DIHENTIKAN BANGSA INI AKAN LEBIH MENDERITA DAN DO'A-DO'A ULAMA UNTUK MENOLAK BALA BENCANA TIDAK AKAN DIKABULKAN TUHAN. RASULULLAH SAW BERSABDA: "BARANGSIAPA MEMUSUHI WALI ALLAH, MAKA ALLAH AKAN MENYATAKAN PERANG TERHADAPNYA". MUNGKINKAH SEKARANG SEDANG TERJADI perang ANTARA TUHAN dengan musuh PARA WALI (IMAM MAHDI)? SEHINGGA TANAH,AIR, ANGIN DAN API MURKA?


[1] Q.S. An-Nuur:54.
[2] Penulis beberapa tahun mengajari banyak santri dari anak dan cucu para mantan aktifis DI TII, termasuk di antaranya mantan santri Ustad Abu Bakar Ba'asyir. Ketika itu Abu Bakar Ba'asyir dikabarkan menghilang dari Pesantren Al-Mu'min Nguki dan pergi ke Malaysia. Kebetulan salah seorang paman penulis juga adalah salah satu Komandan Teritorial DI TII di Kabupaten Majalengka yang secara resmi bertobat dan kembali ke pangkuan NKRI dengan suka rela serta tidak mendidik anak keturunannya menjadi para pengikut Islam radikal seperti yang beliau alami.


sumber : kiwaras.blogspot.com, hajaruddin.blogspot.com

26 August 2014

Ribuan Muslim bertemu di kota di Inggris dan berjanji setia kepada Khalifah

Konvensi terbesar dan terpanjang, Jalsa Salana, kembali diadakan di Hampshire dalam edisi ke 48-nya mulai hari Jum’at, 29 Agustus hingga Minggu 31 Agustus 2014. Berkumpul sebanyak lebih dari 30.000 tamu Muslim dan non-Muslim dari UK dan seluruh dunia termasuk keluarga kerajaan, tokoh agama dari semua keyakinan, para menteri, kalangan akademisi dan tokoh-tokoh masyarakat dalam pertemuan rohani yang mengawali musim panas di Inggris. Pembicara utama adalah Yang Mulia, Hazrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih ke-5, Jemaat Muslim Ahmadiyya. Beliau akan menerima para delegasi sebanyak lima kali selama pertemuan ini. Berbagai pembicara dari seluruh dunia juga akan ambil bagian.

Oaklands Farm akan dirubah menjadi kota kecil yang dilengkapi dengan tempat-tempat shalat, tenda-tenda tamu, tenda-tenda tidur, sebuah bazaar atau pasar belanja, sebuah tenda roti, studio televisi internasional, toko-toko buku dan pameran-pameran.

Sepuluh ribu muslim termasuk ribuan pengikut baru dari Inggris akan berjanji setia (bai’at) kepada Khalifah Islam Jemaat Muslim Ahmadiyah. Jutaan orang lainnya di seluruh dunia juga akan mengikuti bai’at ini melalui tv satelit.

Konvensi ini mendapat pengkhidmatan dari 5000 sekarelawan Muslim Inggris termasuk lebih dari 2000 wanita Muslim.
Jangan lewatkan acara unik ini sebagai pertemuan Muslim untuk mendukung perdamaian, toleransi dan cinta kasih. Acara ini akan menjadi penampakan wajah kebenaran Islam.


29, 30, 31 Agustus 2014
Hadeeqatul Mahdi (Oakland Farm) Green Street, East Worldham

Sumber: http://www.pressahmadiyya.com/2014/08/jalsa-salana-uk-2014.html

22 January 2014

Belajar Menyikapi Ahmadiyah lewat surat Soekarno

Ternyata tidak saja orang orang jaman kita yang alergi dengan Ahmadiyah. Jaman sebelum kemerdekaan, issue issue mengenai hmadiyah sudah meramaikan suasana keagamaan saat itu,Ketika itu seorang Soekarno dituduh sebagai anggota Jamaah Ahmadiyah. bagaimana seorang soekarno bapak bangsa dan seorang yang terpelajar pada saat itu menyikapinya.?hal ini sangat penting untuk dipelajari
supaya menjadi teladan bagi kita bagaiman menyikpai mereka .. 


Pada suatu hari di bulan November 1936, Bung Karno menerima sepucuk pos. Di zaman ketika komunikasi masih sangat terbatas, surat itu dikirim seseorang dari Bandung dengan kapal biasa ke Kupang, di Pulau Timor bagian barat; dari sana ia diterbangkan sebagai vliegpost (pos udara) ke Ende, tempat Bung Karno waktu itu hidup sebagai orang buangan.

Surat itu ditulis seorang teman. Ia bercerita bahwa harian Pemandangan memuat satu informasi kecil: Bung Karno telah mendirikan cabang Ahmadiyah dan ”menjadi propagandis Ahmadiyah” wilayah Sulawesi.
Saya tak tahu kaget atau tidakkah Bung Karno mendengar cerita fiktif tentang dirinya itu. Mungkin tidak. Ia sudah siap mendengar tuduhan yang bermacam-ragam, termasuk ”anti-Islam”, karena pandangannya yang kritis tentang perilaku umat Islam di Indonesia. Meskipun demikian, Bung Karno membantah. Dengan tenang sekali.

”Saya bukan anggota Ahmadiyah,” demikian ditulisnya dalam suratnya bertanggal 25 November tahun itu, yang bisa kita temukan dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi. Karena ia bukan anggota, kata Bung Karno pula, ”Mustahil saya mendirikan cabang Ahmadiyah atau menjadi propagandisnya.” Apalagi untuk wilayah Sulawesi: ia tak akan sampai ke sana. Sebagai orang yang diasingkan dan diawasi pemerintah kolonial Belanda, Bung Karno bahkan tak akan diizinkan untuk ”pelesir ke sebuah pulau yang jauhnya hanya beberapa mil sahaja dari Ende”.

Tapi dari peristiwa ini tampak: Islam di Indonesia punya problem yang tiap kali seperti didaur ulang. Tahun 1936, seperti 2010: ada kecurigaan kepada orang yang mengemukakan pendapat lain tentang Islam. Tahun 1936, seperti 2010: ada sikap berseteru terhadap gerakan dan keyakinan Ahmadiyah.

Di tahun surat Bung Karno ditulis itu, permusuhan terhadap Ahmadiyah sudah sekitar tujuh tahun umurnya. Meskipun mula-mula tak ada gejolak apa pun. Pada awalnya sekitar 20 pemuda Islam dari Sumatera Barat datang ke India untuk belajar agama di Qadian. Tahun 1925: mubalig pertama Ahmadiyah Qadian sampai ke Tapaktuan, Aceh. Ia kemudian ke Sumatera Barat. Pada 1926, organisasi Jemaat Ahmadiyah berdiri.

Sampai di sini, belum ada konflik yang tercatat, meskipun kalangan Ahmadiyah Qadian percaya bahwa Mirza Ghulam Ahmad seorang pembaharu dan sekaligus ”nabi” tapi nabi yang tak membawa syariat baru.

Konflik pertama justru terbuka di Yogya, dan ini berhubungan dengan Ahmadiyah Lahore, yang tak meng anggap Mirza Ghulam Ahmad seorang nabi, melainkan seorang mujaddid (pembaharu).

Awalnya sebuah ukhuwah. Tahun 1924, dua pendakwah gerakan ini, Mirza Wali Ahmad Baig dan Maulana Ahmad, datang ke Yogya. Djojosugito, sekretaris Muhammadiyah, mengundang mereka untuk berpidato di muktamar, dan menyebut Ahmadiyah sebagai ”organi sasi saudara Muhammadiyah”. Tapi, setelah sebuah perdebatan, Muhammadiyah melarang paham Ahmadi. Pada Muktamar Muhammadiyah ke-18 di Solo, pada 1929, dinyatakan bahwa ”orang yang percaya akan Nabi setelah Muhammad SAW adalah kafir”. Djojosugito dipecat. Ia mendirikan Gerakan Ahmadiyah Indonesia, 4 April 1930.

Takutkah Bung Karno dikaitkan dengan paham ini? Dari nada suratnya, tidak. ”Saya tidak percaya bahwa Mirza Ghulam Ahmad seorang nabi dan belum percaya ia seorang mujaddid,” katanya. Tapi Bung Karno memuji pelbagai buku dan tulisan dari kalangan Ahmadi. ”Saya dapat banyak faedah daripadanya.” Salah satunya, yang dalam bahasa Belanda disebut Het Evangelie van den daad, oleh Bung Karno disebut ”brilliant, berfaedah bagi semua orang Islam”.

Apalagi Bung Karno melihat ada tenaga yang positif dari kalangan Ahmadiyah:

”… pada umumnya ada mereka punya ’features’ yang saya setujui: mereka punya rationalisme, mereka punya kelebaran penglihatan (broadmindedness), mereka punya modernisme, mereka punya hati-hati terhadap hadits, mereka punya streven Qur’an sahaja dulu, mereka punya systematische aannemelijk making van den Islam.”

Bung Karno bukannya menyetujui semua. Ia menolak ”pengeramatan” Mirza Ghulam Ahmad dan ”kecintaan” kalangan Ahmadi ”kepada imperialisme Inggris”. Tapi, tulis Bung Karno pula, ia ”merasa wajib berterima kasih” kepada pandangan yang termaktub dalam karya-karya mereka.

Di masa itu, seperti tampak dari Surat-surat Islam dari Endeh, (korespondensinya dengan T.A. Hassan, tokoh ”Persatuan Islam” di Bandung), Bung Karno memang sudah menunjukkan keinginannya. Ia hendak mendorong umat Islam ke masa depan, bukan berbalik ke masa lalu. ”Kenapa kita mesti kembali ke zaman ’kebe saran Islam’ yang dulu-dulu? Hukum Syariat?” tulis Bung Karno dalam surat bertanggal 22 Februari 1936. ”Islam itu kemajuan!”
Maka tak mengherankan bila ”kemajuan” itu yang ia lihat pada gerakan Ahmadiyah. Tapi, lebih dari itu, Bung Karno tak mungkin mengabaikan apa yang dibawa sejarah: benturan dan pertemuan pelbagai buah pengalaman.

Dalam kaitan itu, Bung Karno melihat ”cacat” ”Persatuan Islam” yang dipimpin T.A. Hassan, yaitu ”sektarisme”: hanya paham sendiri yang dianggap benar; gagasan lain dimusuhi.

Padahal, dengan ”membuka semua pintu budi akal kita bagi semua pikiran,” kata Bung Karno di akhir suratnya, akan lahir Islam yang ”tiada kolot dan mesum”, yang bukan ”hadramautisme”. Akan lahir Islam yang ”cinta kemajuan dan kecerdasan”.

Mengapa saya ingat Bung Karno, Ahmadiyah, tahun 1936? Memang aneh bahwa saya harus mengutip surat tua itu untuk berbicara tentang ”kemajuan dan kecerdasan” bagi umat Islam di Indonesia. Mungkin justru karena kedua hal itu makin dibiarkan terjerumus ke dalam ”sektarisme”. Hari-hari ini, ”sektarisme” itu bahkan ditegaskan dengan kekerasan.

dikutip dari : majalah Tempo Edisi Senin, 02 Agustus 2010

21 November 2013

Twitter, Zuhairi Misrawi (@zuhairimisrawi)

07 August 2013

Himbauan Huzur berkenaan dengan buka puasa bersama

HIMBAUAN HUZUR BERKENAAN DENGAN
BUKA PUASA BERSAMA

Saya ingin sampaikan berkenaan dengan undangan-undangan buka puasa bersama. Pertama, bisa dengan cara mengirimkan iftari (hidangan pembuka: manis-manisan, kurma, gorengan dan makanan ringan lainnya -Pent) ke rumah-rumah orang lain untuk berbuka puasa dengan maksud supaya pada hari itu mereka (orang yang mengirim makanan) diingat dalam doa-doa. Mengirim makanan untuk berbuka puasa bertujuan sebagai satu alarm pengingat bagi orang yang dikirim untuk mengingat orang yang mengirimkan makanan dalam doa-doanya di bulan ramadhan. Orang yang dikirim akan berfikir, “lihatlah! Betapa penuh dengan cinta dan kasih sayang perlakuan yang diberikan oleh si fulan kepada kita”.

Tapi, ketika anda mengundang orang-orang untuk berbuka puasa bersama, justru terkadang memberikan hasil yang sama sekali bertentangan dengan maksud diatas. Setelah berbuka puasa, alih alih disibukkan dengan zikir Ilahi, tilawat Quran Karim dan juga bersiap-siap untuk pergi melaksanakan shalat tarawih, justru yang ada malah sibuk dengan obrolan-obrolan yang terkadang berlangsung lama, sehingga efeknya sia-sialah ibadah-ibadahnya. Jika memang mereka mendirikan shalat isya diakhir waktu batas yang ditentukan, maka akan berpengaruh pada shalat tahajjud keesokan harinya.

Huzur bersabda:”Untuk itulah saya pribadi tidak menyukai acara-acara buka puasa bersama. Kebiasaan saya ketika di Rabwah pun sama, yakni meskipun orang-orang selalu memohon dengan memelas ( supaya saya berkenan hadir dalam acara-acara buka bersama-Pent), tapi selalunya saya sampaikan maaf bahwa saya tidak bisa menghadirinya. Melakukan kegiatan-kegiatan seperti ini (buka puasa bersama) menurut saya bertentangan dan bertabrakan dengan maksud dan tujuan dari ramadhan itu sendiri. Acara-acara buka bersama yang sudah dilakukan pada minggu-minggu yang lalu, itu sudah berlalu. Dimasa yang akan datang, bertaubatlah (hentikanlah-Pent) dan janganlah mengadakan acara-acara seperti itu di rumah-rumah. Sibukkanlah dengan acara-acara yang dipenuhi dengan zikir Ilahi. Saya tidak pernah melihat acara-acara buka puasa bersama seperti itu berubah menjadi majlis-majlis zikir ilahi, justru malah menjadi acara-acara penataan (menata rumah untuk menyambut tamu:kursi, meja, makanan dll-Pent), para wanita dan anak-anak menghadiri acara-acara seperti ini dengan mengenakan pakaian yang bagus-bagus, didalam acara tersebut mereka disibukkan dengan obrolan kesana kemari, memuji-muji hidangan makanan dan mengambil manfaat dari berbagai macam kenikmatan yang disuguhkan lalu keesokan harinya mereka menyia nyiakan shalat tahajjud.

Terjemah bebas: Mahmud Wardi
(Khutbah jumah tanggal 17 januari 1997)

29 July 2011

Hanya 3-6 bulan penjara untuk pembunuhan Cikeusik


Dua belas terdakwa dalam kasus penyerangan dan pembunuhan tiga pengikut Ahmadiyah di Cikeusik, Banten dijatuhi vonis dengan hukuman antara tiga sampai dengan enam bulan penjara meski jatuh tiga korban jiwa dalam kasus ini.

Para terdakwa mendapat hukuman sangat ringan atas kejahatan mereka, termasuk untuk Dani bin Misra, 17 tahun, yang dalam rekaman video yang beredar luas nampak memukul kepala salah satu korban dengan batu. Dani hanya dijatuhi hukuman tiga bulan kurungan.

Seperti dilaporkan kantor berita AFP, hukuman ringan juga diterima Idris bin Mahdani, salah satu penggerak aksi massa ke rumah pengikut Ahmadiyah bulan Februari lalu, yang menurut majelis hakim terbukti memiliki senjata tajam dan dikenai hukuman penjara lima setengah bulan.

Vonis rendah ini sebelumnya sudah diperkirakan karena tuntutan tertinggi jaksa hanya tujuh bulan dalam sidang sebelumnya.

Meski demikian putusan hakim ini tetap mengejutkan kelompok pegiat HAM dan politisi parlemen di Indonesia.

Mendorong banding

"Bagaimana seseorang pelaku yang menghilangkan tiga nyawa orang lain dihukum begitu ringan? Ini sama artinya dengan memberi sinyal toleransi atas tindak kekerasan,"protes Eva Sundari, anggota Fraksi PDI Perjuangan.

Eva sempat mempertanyakan lemahnya tuntutan jaksa dalam kasus ini saat rapat kerja Komisi III DPR dengan Kejaksaan Agung pekan lalu, namun tak mendapat jawaban memuaskan.

Menurutnya selain Kejaksaan, kepolisian adalah simpul terlemah dalam penegakan hukum di Indonesia, terutama ketika menyangkut kasus intoleransi antar umat bergama.

"Saya akan membuat legal opinion untuk kasus ini, mendorong agar kuasa hukum Ahmadiyah banding dan akan menggalang dukungan politisi DPR agar ada advokasi untuk perkara ini,"janji Eva.

Penyesalan juga diungkapkan organisasi HAM Human Rights Watch, yang menyebut vonis hakim sebagai 'pesan menyeramkan' dunia peradilan Indonesia terhadap pencari keadilan kasus toleransi umat beragama.

"Saat video penyerangan Cikeusik dilihat publik, orang di seluruh dunia terkejut dan ngeri melihat kebiadaban penyerang yang menendang dan mengayunkan parang pada tiga orang sampai tewas," kata Deputi Direktur Human Rights Watch untuk kawasan Asia, Phil Robertson.

"Bukannya pelaku dijatuhi dakwaan pembunuhan atau dakwaan berat lain, jaksa malah membikin dakwaan menggelikan dengan tuntutan super ringan. Sidang Cikeusik mengirim pesan mengerikan terhadap serangan pada kelompok minoritas seperti Ahmadiyah."

"Hari yang menyedihkan untuk keadilan di Indonesia."

"Bagaimana seseorang pelaku yang menghilangkan tiga nyawa orang lain dihukum begitu ringan? Ini sama artinya dengan memberi sinyal toleransi atas tindak kekerasan"

Eva Sundari


sumber: http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2011/07/110728_cikeusikverdict.shtml

06 March 2011

Teologi Kenabian



Status kenabian Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Pendiri Ahmadiyah, adalah kenabian yang belum pernah ada dalam sejarah kenabian, dan belum pernah dipelajari oleh para ulama sebelumnya. Status kenabian itu memang baru bisa dicapai sepeninggal Nabi Muhammad SAW., dan baru Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad yang telah mencapainya sepanjang 14 abad terakhir. Dalam istilah Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, kenabian yang disandangnya dikenal sebagai kenbaian "Ghairi Tasyri'" dan "Ghairi Mustaqil", dan dalam istilah lain beliau disebut : "Dhillun-Nabi", "Buruzun-Nabi", "Ummatun-Nabi", atau "Warasatun-Nabi". Selengkapnya, dapat dipelajari dalam diagram terlampir.


Sumber: facebook.com