Jika aku adalah sebuah pohon yang tumbuh tinggi di dataran tinggi, mungkin hidupku tidak jauh berbeda dari pohon-pohon lain di sekelilingku.
Selama sebelas tahun aku tumbuh dengan tenang. Bersama pohon-pohon lain, aku melewati hujan, panas, angin, dan pergantian musim. Aku merasa hidupku normal. Aku baik-baik saja.
Sampai suatu hari, datang manusia serakah.
Ia berjalan menyusuri hutan, memperhatikan satu per satu pohon. Matanya mengamati sekeliling, mencari mana yang akan dipilih.
Aku berdoa dalam hati,
"Ya Tuhan, jangan aku. Aku masih ingin tumbuh..."
Namun ternyata bukan hanya aku.
Tujuh pohon dipilih.
Kampak-kampak tajam menghantam tubuh kami. Satu demi satu kami roboh tanpa mampu melawan.
Dan akhirnya, yang tersisa dari kami hanyalah tunggul.
Aku memandang ke sekeliling dengan tubuh yang sudah tidak ada lagi.
"Kenapa aku?"
"Kenapa bukan mereka?"
Hari demi hari, aku mencoba menerima keadaan. Dari tunggulku perlahan tumbuh batang-batang kecil. Daun-daun baru mulai bermunculan.
Aku mencoba hidup kembali.
Aku mencoba berdamai dengan nasib.
Aku bahkan mencoba untuk tidak iri kepada pohon-pohon lain yang masih berdiri tinggi di sekelilingku.
Mereka tetap tumbuh.
Mereka tetap rindang.
Mereka tetap utuh.
Sampai dua tahun kemudian, datang lagi seorang manusia.
Ia berjalan mendekat. Mengamati tubuhku yang mulai tumbuh kembali.
Kemudian terdengar sayup-sayup ucapannya,
"Ini cocok... tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil..."
Lalu batangku kembali ditebang.
Untuk kedua kalinya.
Aku kembali roboh.
Dan kali ini aku tidak lagi bertanya,
"Kenapa aku?"
Aku hanya bertanya,
"Kenapa selalu aku?"
Aku menatap sekeliling.
Pohon-pohon lain masih berdiri.
Tinggi.
Rindang.
Tidak tersentuh.
Lalu untuk pertama kalinya aku mencoba melihat ke bawah, lebih jauh dari sekadar tempatku berdiri.
Dan di sana...
Aku melihat begitu banyak tunggul.
Bukan hanya tunggul dari pohon sepertiku.
Ada tunggul dari berbagai jenis pohon.
Besar dan kecil.
Tua dan muda.
Semuanya pernah tumbuh.
Semuanya pernah memiliki daun.
Semuanya pernah berharap untuk terus hidup.
Namun kini yang tersisa hanyalah bekas tebangan.
Aku kemudian melihat lebih jauh lagi.
Hutan ini ternyata sudah hampir gundul.
Kemudian datanglah pemimpin manusia.
Ia berdiri di hadapan hutan dan berkata,
"Kami akan melakukan reboisasi. Kami akan menanam sembilan belas juta pohon baru."
Sembilan belas juta.
Angka yang terdengar begitu besar.
Kami menunggu.
Kami berharap.
Namun waktu terus berjalan.
Dan ternyata...
Itu hanya janji.
Pohon-pohon yang masih berdiri tinggi tidak akan pernah benar-benar merasakan penderitaan kami.
Mereka masih memiliki batang.
Masih memiliki dahan.
Masih memiliki daun.
Masih bisa menikmati hujan dan matahari tanpa harus merasakan bagaimana rasanya ketika kampak menghantam tubuh sendiri.
Mereka mungkin melihat tunggul-tunggul di bawah sana.
Namun mereka tetap berdiri.
Tetap tumbuh.
Tetap hidup.
Dan di antara tunggul-tunggul yang tersisa, tumbuhlah sesuatu yang lain.
Bukan daun.
Bukan ranting.
Melainkan sakit hati.
Satu tunggul berbicara kepada tunggul lainnya.
"Aku juga ditebang."
"Aku juga."
"Aku pun."
Semakin banyak tunggul yang berkumpul, semakin panjang barisan mereka.
Mereka bukan lagi sekadar pohon-pohon yang pernah ditebang.
Mereka adalah barisan yang terluka.
Barisan yang kecewa.
Barisan yang merasa ditinggalkan.
Dan akhirnya, doa mereka pun berubah.
Bukan lagi,
"Ya Tuhan, biarkan aku tumbuh."
Melainkan,
"Ya Tuhan, jika kami tidak bisa tumbuh, maka biarlah gunung itu meledak."
"Luapkanlah laharnya."
"Hancurkanlah hutan ini."
"Jika kami harus hancur, biarlah semuanya hancur bersama."
Mereka tidak lagi menginginkan keadilan.
Mereka menginginkan chaos.
Sebab ketika seseorang sudah terlalu lama melihat dirinya sendiri dihancurkan, sementara yang lain terus berdiri tanpa pernah merasakan apa yang ia rasakan, maka kemarahan perlahan dapat berubah menjadi keinginan agar tidak ada seorang pun yang tersisa untuk menikmati apa yang telah dirampas darinya.
Dan mungkin, itulah bahaya terbesar dari sebuah hutan yang terlalu lama membiarkan pohon-pohonnya ditebang.
Bukan hanya pohon yang hilang.
Tetapi juga harapan.
Dan ketika harapan sudah habis, yang tersisa hanyalah tunggul-tunggul yang menunggu gunung meledak.








