19 February 2011

Arti Khaataman-Nabiyyiin

Firman Allah Ta'ala: "Muhammad bukanlah bapak dari salah seorang diantara kaum laki-lakimu, akan tetapi dia adalah Rasulullah dan Khaataman Nabiyyiin [Materai sekalian Nabi]" (33:41)

Bagaimana sesungguhnya hubungan antara Khataaman Nabiyyiin dengan kalimat "Muhammad bukanlah bapak dari seorang laki-laki diantara kamu?" perlu diperhatikan kata laakin (melainkan) yang disisipkan sebelum kata Rasulullah dan Khaataman-Nabiyyiin. Kata melainkan biasanya digunakan untuk menghilangkan keraguan. Setiap orang Islam jika membaca kalimat pertama tersebut juga timbul pertanyaan dan keraguan mengapa Muhammad bukan bapak dari seorang laki-laki diantara kamu? Firman Allah dalam surah Al-Kausar ayat 4:"Sesungguhnya, musuh engkaulah yang akan tanpa keturunan."

Sejarah Islam mencatat bahwa empat putra kandung Hz. Rasulullah s.a.w. (Qasim, Thayib, Thaher dan Ibrahim) semua wafat dalam masa kanak-kanak. Tidak ada keturunan langsung Hz. Rasulullah s.a.w. sampai dengan hari ini yang berasal dari putra kandungnya. Hal ini dibuktikan dan diakui oleh Allah S.w.t, dalam Surah Al-Kausar ayat 4 bahwa beliau s.a.w. tidak akan memiliki anak laki-laki. Jadi, untuk menghilangkan keraguan itu, Dia menampilkan kata laakin dan menerangkankan bahwa dengan pernyataan itu Allah Ta'ala menghilangkan keraguan dengan cara demikian, yaitu walaupun Hz. Rasulullah s.a.w, bukan bapak dari seorang laki-laki, namun demikian tidak dapat beliau disebut abtar (terputus atau tidak berketurunan), sesungguhnya musuhnyalah yang terputus atau tidak berketurunan. Sebab beliau adalah seorang Rasul Allah. Jadi silsilah keturunan keturunan ruhani seorang Rasul Allah dapat menjadi amat banyak dan luas jangkauannya tak terhingga. Kemudian diteruskan dengan wa khaataman-nabiyyiin, penekanan pokok masalah pertama lebih terfokus yaitu tidak hanya orang mukmin sebagai keturunan baliau, bahwa beliau s.a.w. merupakan Stempel para Nabi. Dengan stempel/cap beliau s.a.w. seorang insan akan dapat mencapai ketinggian martabat ruhani bahkan kenabian. Jadi beliau s.a.w. bukan saja bapak ruhani bagi orang biasa tetapi juga menjadi bapak ruhani bagi para Nabi.

Jadi, pengertian khaatam dengan arti seal, segel, stempel, cap, materai atau cincin (perhiasan) tidaklah merendahkan martabat Hz. Rasulullah s.a.w., bahkan lebih menguatkan kesempurnaan Hz. Rasulullah s.a.w., bahkan segala sifat-sifat yang utama yang terdapat dalam pribadi para Nabi terdahulu mau pun yang akan datang terkumpul dalam diri Hz. Rasulullah Muhammad s.a.w. Hanya beliau s.a.w. seorang yang pantas menyandang gelar Khaatamul-Anbiya', insan kamil, dan rahmatan lil alamin sehingga menjadi teladan bagi seluruh umat manusia untuk selama-lamanya.

Sumber, buku:
Judul: Bukan Sekedar Hitam Putih
Pengarang: M.A Suryawan
Penerbit: Arista Brahmatyasa
Cetakan: Pertama-2005

No comments: